Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Sabtu, 18 Agustus 2012

Bahasa Karya Tulis Ilmiah


Prof. Dr. Erizal Gani, M. Pd
UNP Press . Padang 2012

Cuplikan buku



A. Sekilas tentang Karya Tulis Ilmiah
Secara etimologi, karya tulis ilmiah terdiri dari frasa karya tulis dan ilmiah. Karya tulis adalah hasil dari suatu kegiatan menulis. Hasil karya tulis ini dapat berupa catatan perkuliahan, catatan harian, makalah, cerpen, skripsi, puisi, tesis, novel, komik, dan lain-lain. Pendeknya, seluruh hasil perbuatan menulis disebut dengan karya tulis.  Ilmiah adalah segala sesuatu yang bersifat keilmuan. Ilmu adalah pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Berdasarkan hal tersebut, dapat dirumuskan bahwa karya tulis ilmiah adalah karya tulis yang bersifat keilmuan. Karya tersebut disusun secara sistematis menurut kaidah-kaidah tertentu berdasarkan hasil berfikir ilmiah dan metode ilmiah. Kaidah-kaidah dimaksud dapat berupa kaidah-kaidah keilmuan, kebakuan bahasa, kekonsistenan, keobjektifan, kelogisan, kejelasan, kebermaknaan, tata tulis, dan lain-lain.

Dalam konteks keilmuan, pengujian kebenaran dapat  dilakukan secara rasional atau secara empiris.  Pengujian kebenaran secara rasional dilakukan melalui metode ilmiah dengan cara mengoptimalkan kemampuan berpikir ilmiah. Pengujian kebenaran secara empiris dilakukan dengan cara menanalisis data, baik data kuantitatif (berupa angka) maupun data kualitatif (berupa kata-kata atau kalimat-kalimat). Di dalam kedua analisis tersebut, diperlukan ilmu pengetahuan, pengalaman, wawasan, kekritisan, kecermatan, keseriusan, kedalaman, kosentrasi, keterfokusan dan lain-lain. 

Sebuah karya tulis dapat dianggap sebagai karya tulis ilmiah jika mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, misalnya: objektif, netral, sistematis, logis, menyajikan fakta, dan teruji. Uraian ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut.
1.   Objektif. Sebuah karya tulis ilmiah harus objetif. Yang dimaksud dengan objektif adalah mengungkapkan segala sesuatu seperti apa adanya. Setiap fakta dan data diungkapkan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, tidak dimanipulasi, tidak direkayasa. Setiap pernyataan atau simpulan yang disampaikan didasarkan kepada bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan cara yang demikian, siapa pun yang menyangsikan dan mempertanyakan karya tersebut dapat mengecek kebenaran dan keabsahannya.
2.     Netral. Aspek kenetralan mengacu kepada setiap pernyataan, pengungkapan, atau penilaian yang terbebas dari kepentingan-kepentingan tertentu baik kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok. Karya tulis ilmiah tidak mempertimbangkan atau tidak mempermasalahkan apakah seseorang akan senang atau tersinggung dengan pernyataan yang dikemukakan. Karya tulis ilmiah bebas dari persoalan rasa-rasa atau hal-hal yang berbau emosional. Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang bersifat mengajak, membujuk, melarang, atau mempengaruhi pembaca perlu dihindarkan.
3.     Sistematis. Aspek sistematis ini mengacu kepada pola penyajian yang bersifat baku, bukan beku. Sebuah karya tulis ilmiah menguraikan dan menyajikan sesuatu secara berurutan, sebagai contoh adalah skripsi, tesis, atau disertasi. Masing-masing tulisan ilmiah tersebut terdiri dari bagian awal, tengah, dan akhir. Masing-masing bagian tersebut terdiri dari berbagai subbagian yang letak atau posisinya juga terurut secara sistematis, misalnya, bagian awal terdiri dari subbagian halaman judul (kulit atau kover), halaman pesembahan (kalau ada), halaman pengesahan (pembimbing dan penguji), halaman abstrak,  halaman kata pengantar, halaman ucapan terima kasih (kalau ada), halaman daftar isi, dan halaman awal daftar-daftar (dattar tabel, bagan, gambar, dan lain-lain). Sub-subbagian tersebut juga terdiri dari berbagai aspek. Untuk subbagian judul (misalnya) terdiri dari berbagai subbagian terkecil, misalnya: judul, identitas tulisan, identitas penulis, lambang, nama lembaga, kota, dan tahun.  Selain dari penyajian,  kebersistematisan tersebut juga terdapat pada pola pengembangan tertentu, misalnya pola urutan, klasifikasi, kausalitas, dan sebagainya. Dengan kebersistematisan tersebut, pembaca akan bisa mengikuti dengan mudah alur uraian karya tulis ilmiah tersebut.
4.      Logis. Kelogisan ini mengacu kepada pola penalaran yang digunakan penulis, misalnya pola penalaran induktif atau deduktif. Jika penulis bermaksud menyimpulkan suatu fakta atau data digunakan pola induktif, Sebaliknya, jika penulis bermaksud membuktikan suatu teori atau hipotesis digunakanlah pola deduktif. Selain itu, aspek kelogisan ini juga terlihat pada pola  menyatakan pikiran pada kalimat yang digunakan. Sangat banyak penulis yang kurang atau tidak awas terhadap tata kalimat ini. Artinya, kalimat tersebut tidak mampu mengkomunikasikan pemikiran penulisnya. Akibatnya, pembaca tidak mampu memahami pesan yang hendak disampaikan penulis karya ilmiah yang bersangkutan. 
5.   Menyajikan fakta (bukan emosi atau perasaan). Setiap pernyataan, uraian, atau simpulan dalam karya ilmiah harus bersifat faktual, yaitu menyajikan segala sesuatu berdasarkan fakta dan data. Oleh karena itu, pernyataan atau ungkapan yang bernada emosional hendaknya perlu dihindarkan. Ungkapan-ungkapan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut: (1) ungkapan menggebu-gebu seperti orang yang sedang berkampanye, (2) pernyataan sedih seperti orang yang sedang berkabung, (3) ungkapan senang seperti orang yang mendapatkan hadiah di hari ulang tahun, dan (4) ungkapan marah seperti orang yang sedang bertengkar.
6.  Teruji.  Karya tulis ilmiah lahir dari sebuah proses ilmiah, baik dalam bentuk konseptual ataupun dari suatu penelitian. Dasar-dasar keilmuan sangat ketal pada sebuah karya tulis ilmiah. Oleh sebab itu, kebenaran yang disajikan di dalamnya tidak perlu diragukan. Kalau pun ada keraguan, maka keraguan tersebut dapat ditelusuri dan dibuktikan kebenaran atau ketidakbenarannya.

Gambaran kaitan keenam komponen tersebut dapat dilukiskan melalui bagan berikut ini.

Gambar Bagan 1. Ciri-ciri Karya Tulis Ilmiah

Sekiranya ada karya tulis yang dikategorikan sebagai karya tulis ilmiah, tentu saja ada pula karya tulis yang dikategorikan sebagai karya tulis bukan ilmiah (nonilmiah atau KTNI). Kenyataannya memang  memperlihatkan hal yang demikian, yaitu ada karya tulis yang ditulis dengan tidak menggunakan kerangka berpikir ilmiah dan metode ilmiah. Karya-karya tulis yang seperti ini sering disebut dengan karya fiksi atau karya tulis dalam bentuk cerita. Pada hematnya, perbedaan tersebut dapat ditinjau dari beberapa titik pengamatan. Secara rinci, perbedaan tersebut dapat dijelaskan dengan menggunakan tabel berikut.




Tabel 1: Perbedaan Karya Tulis Ilmiah dengan Karya Tulis Nonilmiah

No.
Titik Pengamatan
Karaya Tulis Ilmiah (KTI)
Karya Tulis Nonilmiah (KTNI)
1.
Masalah
Biasanya masalah yang dibicarakan adalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah keilmuan atau sesuatu yang bersifat ilmu pengetahuan. Masalah tersebut diperoleh dari hasil observasi dilapangan (empiris) atau dari bahan bacaan (rasional). Semakin banyak mengamati, berdiskusi, dan membaca semakin banyaklah masalah tersebut dimiliki.

Biasanya masalah yang dibicarakan berkaitan dengan masalah kemanusiaan, seperti cinta kasih, persahabatan, kekeluargaan, perjuangan, dan lain-lain. Masalah cenderung diperoleh secara tidak terencana  (insiden) sesuai dengan suasana hati dan daya imajinasi.

2.
Judul
Antara judul dengan permasalahan yang dibahas selalu saling mencerminkan. Melalui judul dapat diramalkan masalah yang akan dibahas dan melalui masalah yang dipilh dapat ditentukan judul karya tulis.

Antara judul dengan permasalahan tidak selalu saling mencer-minkan. Bisa saja judul merupakan kiasan dari sesuatu. Misalnya, sebuah karangan  judulnya "Kelinci Merah" tetapi yang dibicarakan adalah kebuasan nafsu seks seorang lelaki. Contoh lain, Sutan Takdir Alisyahbana (STA) menulis roman dengan judul “Layar Terkembang”, yang dibahas dalam karangan itu bukan tentang layar,
melainkan tentang perempuan masa depan Indonesia.

3.
Efek bagi pembaca
Merangsang kemampuan berpikir pembaca sehingga pengetahuan, wawasan, kekritisan, ketajaman, dan daya analisis pembaca terhadap sesuatu hal menjadi bertambah baik. Pembaca menjadi lebih berpengetahuan.

Merangsang daya emosional pembaca sehingga pembaca merasa senang, marah, takut, benci, geli, terhadap sesuatu hal sesuai dengan apa yang dibacanya. Pembaca lebih memiliki kematangan emosi, kepekaan, berbudi, dan lain-lain. Pengaruh tersebut akan lebih terasa bila KTNI tersebut ditampilkan melalui sinetron atau filem.

4.
Bahasa
Menggunakan bahasa yang baik dan benar. Bahasa yang baik mengacu kepada konteks penggunaan bahasa. Bahasa yang baku mengacu kepada kaidah-kaidah kebahasaan yang berlaku. Bahasa tidak ambiguitas, jelas, bermakna denotatif, singkat, tepat, jujur. Dengan kata lain, bahasa yang dipakai tidak ada yang percuma.

Menggunakan bahasa yang baik. Tidak selalu mengacu kepada konsep bahasa yang baik dan benar. Bahasa diciptakan dengan sedemikian rupa sehingga menjadi begitu menarik, menyenangkan, dan mampu mempengaruhi pembaca.

5.
Pola pengem-bangan tulisan
Tulisan dikembangkan dalam bentuk karangan eksposisi dengan pola pengembangan logis dan ruang.

Tulisan dikembangkan dalam bentuk karangan narasi dengan pola pengembangan kronologis dan ruang.

6.
Prosedur penciptaan
Ditulis melalui prosedur baku, misalnya melalui penelitian (karya tulis ilmiah penelitian) atau analisis rasional (karya tulis ilmiah konseptual). 

Ditulis melalui kemampuan berimajinasi, membangun angan-angan atau daya khayal.
7.
Sistematika penulisan
Uraian terhadap permasalahan disusun secara sistematis, sehingga pola berpikir penulis dapat dilihat dengan jelas. Biasanya urutan itu terdiri dari pengajuan masalah (pendahuluan), pembahas-an, dan kesimpulan (penutup).

Uraian terhadap permasalahan dapat saja secara sistematis dan dapat juga secara tidak beraturan. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan alur cerita, misalnya alur lurus atau alur balik (flash back).

8.
Pembahas-an
Permasalahan dibahas secara rasional, empiris, atau perpaduan keduanya.  Analisis rasional didasarkan kepada teori-teori standar yang berlaku. Analisis empiris didasarkan kepada data-data atau fakta­-fakta yang diperoleh di lapangan.
Menonjolkan ekspresi akal pikiran. Penulis karya ilmiah bebas mengekspresikan analisis logis yang objektif.

Permasalahan dibahas dan disampaikan dengan cara bercerita sesuai dengan imajinasi, daya khayal, fantasi, dan angan-angan pengarang terhadap masalah yang diangkatnya.
Menonjolkan ekspresi emosi atau perasaan yang sangat subjektif.

9.
Sasaran
Lebih   ditujukan kepada orang yang menggeluti suatu disiplin ilmu tertentu. Biasanya orang yang berdisiplin ilmu yang samalah yang akan membacanya. KTI yang membahas masalah bahasa hanya (cenderung) dibaca oleh orang yang mempelajari atau menekuni bidang bahasa, demikian seterusnya.

Ditujukan kepada siapa saja (umum), bukan kepada orang-orang tertentu. Artinya tidak ada pembatasan tentang siapa yang seharusnya membaca sebuah karya sastra, dan karya sastra apa saja yang seharusnya dibaca.  Dengan kata lain, siapapun dapat membaca sebuah karya sastra yang diminatinya.

10.
Keterpeca-yaan
Dapat dibuktikan kebenarannya, baik pembuktian  secara rasional (kajian teoritis) atau pembuktian  secara empiris (kajian terhadap data dan fakta).

Tidak dapat dibuktikan kebenarannya karena segala sesuatu yang dikemukakan hanya bersifat imajiner, walaupun imajiner tersebut ada yang dipicu oleh kondisi-kondisi riil di lapangan.

11.
Referensi
Menggunakan referensi keilmuan sebagai bahan acuan. Referensi tersebut dapat berupa artikel, hasil penelitian, buku, atau bahan publikasi internet. 

Tidak menggunakan referensi keilmuah karena masalah yang dipilih dikembangakan berdasarkan kemampuan imajiner pengarang 

12.
Jenis tulisan
Makalah, artikel, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian.

Cerpen (cerita pendek), cerbung (cerita bersambung), novel, roman, cergam (cerita bergambar atau komik), dan lain-­lain.


13.
Penulis
Ilmuwan, yaitu orang yang memilii kepedulian dan menguasai bidang ilmu tertentu.
Sastrawan, yaitu orang yang memiliki kepekaan terhadap kondisi-kondisi yang terjadi dan berkembang di lapangan.

14.
Publikasi
Tidak dapat disembarang media karena tidak bersifat umum. Biasanya pada media tertentu (khusus) seperti Jurnal. Ada juga yang dipubliasikan di media umum, seperti artikel populer. 

Dapat pada media masa umum seperti koran, majalah, tablod, dan lain-lain.
15.
Sapaan  bagi pembuat
Penulis
Pengarang

B. Komponen Karya Tulis Ilmiah
Bagi sebagian orang, menulis karya ilmiah merupakan suatu kegiatan yang rumit dan kompleks serta memerlukan pemikiran yang mendalam. Sungguhpun demikian, setiap orang  sama-sama memiliki potensi untuk menghasilkan karya tulis ilmiah, asalkan ia berani memulai, tidak takut salah, mau belajar terhadap segenap kelemahan dan kesalahan yang ada, rajin membaca, dan tidak malu untuk bertanya pada orang yang dianggap lebih mampu. Dengan cara demikian, diharapkan kebiasaan menulis karya tulis ilmiah dapat hidup dengan lebih subur.

Kemampuan mengemukakan pendapat dalam bentuk karya tulis ilmiah yang tepat dan terpadu memang tidaklah mudah. Hal tersebut lebih dirasakan oleh para penulis pemula. Ketidakmudahan tersebut disebabkan karena kemampuan menulis karya ilmiah melibatkan berbagai pengetahuan dan keterampilan terkait lainnya yang harus dikuasai terlebih dahulu. Tuntutan tersebut berlaku pada tingkat kemampuan menulis karya ilmiah yang manapun (artikel, makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian). Tuntutan tersebut disebabkan karena di dalam kegiatan menulis karya ilmiah, penulis secara simultan selalu menampilkan dan berhadapan dengan dua pertanyaan utama yang secara  sekaligus harus dijawabnya.

Pertanyaan pertama berkenaan dengan “Apakah yang akan saya tulis?  Yang akan ditulis selanjutnya, dan selanjutnya?” Pertanyaan kedua berkenaan dengan “Bagaimanakah caranya memindahkan hal yang hendak dituliskan tersebut (gagasan) kedalam bentuk karya  tulis ilmiah?” Pertanyaan pertama berkenaan dengan permasalahan atau topik tulisan. Pertanyaan tersebut mengisyaratkan bahwa seorang penulis karya ilmiah harus menguasai persoalan (permasalahan) yang akan ditulisnya, termasuk penguasaan terhadap aspek pendukung  atau aspek terkait lainnya. Pertanyaan kedua berkenan dengan persoalan kebahasaan (ejaan, diksi, kalimat, dan lain-lain) nopkebahasaan (motivasi, intelegensi, dan lain-lain), dan tata tulis (organisasi tulisan, mekanisme tulisan, sistematika tulisan, kutipan, dan lain-lain).

Bila dibahas kedua pertanyaan tersebut secara lebih lanjut, maka akan disinggunglah hal-hal yang berkaitan dengan komponen-komponen karya tulis ilmiah. Yang dimaksud dengan komponen karya tulis ilmiah adalah segala sesuatu yang perlu diperhatikan dalam membangun sebuah karya tulis ilmiah. Istiah komponen ini sering juga disebut dengan unsur-unsur, bagian-bagian, atau aspek-aspek karya tulis ilmiah.  Mengacu kepada Harris (1977), pada hematnya komponen-komponen yang membangun karya tulis ilmiah  tersebut meliputi komponen (1) isi tulisan (2) organisasi atau bentuk tulisan, (3) struktur tulisan, (4) gaya penulisan, (5) mekanis tulisan, dan (6) perwajahan. Keenam komponen tersebut hendaklah dipandang sebagai satu kesatuan yang saling mengisi dan saling menunjang.  
Gambaran kaitan komponen tersebut dapat dilukiskan melalui bagan berikut ini.

Bagan 2. Komponen-komponen Karya Tulis Ilmiah

Pemahaman terhadap masing-masing komponen yang membangun karya tulis imiah harus dimiliki oleh seorang penulis karya ilmiah. Selama ini masih ada penulis yang kurang memahami dan tidak memperhatikan struktur dan komponen-komponen yang membangun karya tulis ilmiah tersebut. Akibatnya, mereka cenderung memcampuradukkan antara satu komponen dengan komponen yang lainnya. Misalnya, menyatukan antara komponen manfaat penelitian dan tujuan penelitian. Kedua komponen karya tulis ilmiah tersebut  tidaklah sama. Tujuan merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh peneliti, sedangkan manfaat penelitian merupakan sumbangan yang dapat diberikan oleh hasil penelitian tersebut. Di sisi lain, isi komponen latar belakang masalah juga sering tumpang tindih dengan isi komponen kerangka teori. Sering ditemui latar belakang masalah berisi teori. Hal tersebut tidaklah benar karena latar belakang adalah latar belakang dan teori adalah teori. Artinya, uraian tentang teori hendaklah ditempatkan pada tempat tersendiri, yaitu di bagian kerangka teoretis.

Pada karya tulis ilmiah, pengemukaan sesuatu harus pada tempatnya. Tidak dibenarkan menguraikan tentang “A” di bagian “B”, menguraikan tentang “B” di bagian “C”, demikian seterusnya. Uraian tentang “A” harus di bagian “A”, menguraikan tentang “B” harus di bagian “B”, demikian pula seterusnya.   Sebuah penjelasan atau urian pada karya tulis ilmiah hendaklah dilakukan pada tempatnya masing-masing, tidak boleh salah letak.

Pemahaman terhadap komponen-komponen yang membangun karya tulis ilmiah tersebut harus dimiliki oleh seorang penulis karya tulis ilmiah. Pemahaman tersebut sangat besar perannya dalam rangka memampukan orang yang bersangkutan menghasilkan suatu karya ilmiah yang baik dan  berkualitas. Jika pemahaman tersebut tidak dimiliki, proses penulisan karya tulis ilmiah tersebut akan mengalami kendala. Ujung-ujungnya adalah kurang atau tidak berkualitasnya karya tulis ilmiah yang dihasilkan.

Agar pemahaman terhadap masing-masing komponen tersebut dapat diraih dan dilaksanakan dengan baik, berikut ini akan diuraikan bagian-bagian tersebut secara satu persatu.  Komponen organisasi atau bentuk tulisan, tidak dibicarakan atau dibahas pada bab ini. Hal itu dilakukan mengingat begitu kompleks dan spesifiknya persoalan pada komponen organisasi atau bentuk karya tulis ilmiah tersebut. Komponen struktur atau kebahasaan dengan beberapa bagiannya, dibicarakan pada bab tersendiri. Pada komponen struktur atau kebahasaan inilah inti dari pembahasan buku ini. Itulah sebabnya buku ini diberi  judul “Bahasa Karya Tulis Ilmiah”.

1.      Komponen Isi Karya Tulis Ilmiah

Di dalam setiap kegiatan menulis karya ilmiah, seorang penulis selalu berhadapan dengan dua pertanyaan besar. Pertanyaan pertama berkaitan dengan “apa yang akan ditulis”, dan  pertanyaan kedua  berkaitan dengan “bagaimana mengeksplisitkan hal yang akan ditulis tersebut  menjadi karya tulis ilmiah”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu dilontarkan penulis secara berulang-ulang. Semakin lama, pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin komprehensif, semakin terfokus, semakin mendalam, semakin mengerucut, dan semakin final. Pertanyaan pertama berkaitan dengan materi tulisan dan pertanyaan kedua berkaitan dengan  teknik atau tatacara penulisan.

 Hal yang hendak disampaikan atau ditulis dalam suatu tulisan ilmiah adalah materi tulisan. Jika materi ini tidak ada, berarti proses menulis tidak akan terjadi. Jika proses menulis tidak ada, tentu saja tidak akan ada karya tulis ilmiah yang akan dihasilkan.  Rangkaian “jika-maka” tersebut menginformasikan bahwa materi  tulisan adalah sesuatu yang harus ada. Apapun bentuk dan jenis tulisannya, perihal materi tulisan adalah suatu keharusan bagi karya tulis tersebut. Materi tersebutlah yang hendak dikomunikasikan oleh seorang penulis kepada pembaca.

 Materi tulisan dirumuskan dalam bentuk permasalahan demi permasalahan dan hal-hal lain yang terkait dengan itu. Secara keseluruhan, semuanya disebut dengan isi karangan. Isi tulisan merupakan inti dari karangan tersebut. Isi merupakan bagian tulisan yang sangat penting. Dari sinilah awal tulisan dimulai, bagian inilah yang diproses, dan kepada bagian inilah akhir tulisan dikembalikan.  Oleh sebab itu,  setiap calon penulis harus menguasai isi tulisan ini dengan baik.

Langkah awal yang perlu diperhatikan dan dilakukan seorang penulis karya tulis ilmiah dalam kaitannya dengan apa yang akan ditulis (materi tulisan) adalah  merencanakan topik yang akan ditetapkan menjadi suatu tulisan. Topik sering juga diartikan dengan pokok pembicaraan atau pokok permasalahan. Topik merupakan sentral dari sebuah tulisan. Oleh karena topik atau masalah merupakan sesuatu yang mendasar dari suatu tulisan, calon penulis harus memiliki kemampuan dalam mencari, merencanakan, memilah, memilih, dan menetapkan  topik atau masalah yang akan ditulisnya.

Sebuah tulisan tidak akan ada apabila tidak ada masalah yang akan ditulis. Oleh sebab itu, topik ini harus dimiliki sebelum tulisan dibuat. Untuk mendapatkan topik, seorang calon penulis harus memahami sumber topik dan cara mendapatkannya.  Sumber topik adalah tempat atau lokasi keberadaan suatu masalah yang akan ditulis. Dari tempat atau lokasi tersebutlah suatu masalah diperoleh. Pada umumnya, sumber masalah tersebut dapat berupa (1) bahan bacaan, terutama bacaan dalam bentuk makalah, artikel, dan laporan penelitian (2) gejala-gejala atau fenomena-fenomena yang ada dilapangan, (3) peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, dan (4) diri orang-orang tertentu, terutama para ilmuwan.

Cara adalah teknik-teknik atau upaya-upaya yang dilakukan seseorang (calon penulis karya tulis ilmiah) dalam rangka mendapatkan topik atau permasalahan yang akan ditulisnya. Pada umumnya, upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam rangka mendapatkan topik, masalah, atau materi tulisan adalah sebagai berikut.

a.  Studi kepustakaan. Kegiatan ini dilakukan  dengan cara membaca sebanyak mungkin. Biasanya bahan bacaan tersebut adalah karya tulis ilmiah seperti makalah, artikel, dan laporan penelitian (skripsi, tesis, dan disertasi). Dengan membaca dan memahami  karya-karya tulis yang seperti itu seseorang akan memperoleh berbagai masukan yang akan menginspirasinya untuk memunculkan suatu masalah yang akan ditulis. Selain membaca karya tulis ilmiah, masalah yang akan ditulis juga tidak jarang diperoleh dengan membaca bacaan yang berbentuk cerita. Dengan membaca sebuah karya sastra, seseorang akan memperoleh masukan yang dapat mengilhaminya  untuk menulis berbagai hal dari cerita tersebut, misalnya: analisis unsur-unsur instrinsik karya sastra, analisis nilai-nilai pendidikan karya sastra,  kajian terhadap gaya bahasa karya sastra, erotisme dalam karya sastra, dan lain-lain.

b.  Pengamatan atau observasi. Kegiatan ini dilakukan  dengan cara mempelajari dan memahami berbagai benda, keadaan, gejala, fenomena, dan peristiwa-peristiwa yang ada di lapangan. Berdasarkan kondisi-kondisi riil di lapangan tersebut calon penulis akan memperoleh sesuatu yang berarti dan bisa dijadikan topik atau masalah untuk sebuah tulisan ilmiah. Pada karya tulis ilmiah, kondisi-kondisi riil di lapangan tersebut  biasanya dikemukakan pada bagian latar belakang masalah.

c   Tukar pikiran atau berdiskusi. Kegiatan ini dilakukan  dengan cara bertanya jawab atau berdiskusi dengan orang-orang tertentu yang memiliki pengetahuan mumpuni pada bidang keilmuan tertentu. Dengan bertukar pikiran tersebut, calon penulis akan mendapat banyak masukan sehingga ia dapat merumuskan apa topik yang akan ditulisnya. Dalam proses bertukar pikiran ini, tidak jarang lawan bicara yang justru mengusulkan aneka masalah yang pantas dan patut ditulis untuk sebuah karya tulis ilmiah.

Dengan memahami sumber masalah dan teknik memperoleh atau mendapatkan masalah seperti yang diuraikan di atas, seorang calon penulis karya ilmiah akan memmulai melakukan kegiatan sekaitan dengan topik tulisan ilmiahnya. Ia akan memilah, memilih, dan  menetapkan masalah yang akan ditulisnya.

Banyak hal atau masalah yang dapat ditulis untuk dijadikan sebuah karya tulis ilmiah. Akan tetapi, tidak seluruh hal tersebut yang layak dan harus ditulis. Oleh sebab itu, diperlukan upaya untuk memilih dan memilah topik tersebut sehingga   diperoleh suatu ketetapan tentang apa yang akan ditulis. Rangkaian topik yang sudah direka-reka pada tahap perencanaan, harus ditetapkan sesegera dan setepat mungkin. Semakin cepat ketetapan itu diperoleh, semakin baiklah ia bagi kegiatan selanjutnya. Hal ini sangat besar artinya bagi calon penulis, sebab selain untuk menghilangkan keraguan-keraguan tentang apa yang akan ditulis, penulis juga dapat menentukan kegiatan-kegiatan selanjutnya sehubungan dengan topik  tersebut.

Kemampuan menetapkan topik tulisan dengan cepat merupakan suatu keharusan bagi calon penulis. Sangat banyak masalah yang dapat ditulis. tetapi tidak seluruhnya harus ditulis. Oleh karena itu, kemampuan menetapkan topik atau masalah ini harus dimilki oleh seorang calon penulis karya tulis ilmiah.

Menetapkan topik tulisan merupakan suatu keharusan bagi setiap calon penulis. Hal itu disebabkan karena bagian-bagian selanjutnya harus mengacu kepada topik tersebut. Oleh sebab itu, penetapan suatu topik harus dilakukan dengan penuh pertimbangan, bukan asal ditetapkan saja. Mengacu kepada Nasution, S dan Thomas M. (2008), beberapa hal berikut perlu dilakukan atau mendapat perhatian di dalam memilih dan menetapkan topik tulisan.

a.      Menarik. Topik tulisan harus menarik perhatian dan minat penulis. Faktor kemenarikan ini  tidak boleh tidak dimilki. Dengan faktor ini, penulis akan melakukan kegiatan penulisan karya ilmiahnya dengan perasaan senang dan tidak terbebani. Untuk tulisan ilmiah yang akan dipublikasikan pada koran atau jurnal, persoalan kemenarikan topik ini tidak hanya pada pihak penulis saja akan tetapi juga menarik bagi media masa target, terutama koran. Jika topik yang ditetapkan tidak diminati tim redaksi, jangan harap karya tulis ilmiah tersebut akan dipublikasikan.    
b.      Masalah keilmuan. Topik tulisan harus mengandung masalah keilmuan, yaitu masalah yang membutuhkan kemampuan berpikir ilmiah di dalam menindaklanjutinya. Masalah yang mengandung persoalan-persoalan  keilmuan akan merangsang penulis untuk mengadakan penelitian, studi kepustakaan, observasi, wawancara, dan lain-lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memperluas, memperkaya, dan memperdalam pengetahuan penulis dalam bidang yang diselidikinya itu (topik tulisan).
c.  Cakupan. Topik tulisan hendaknya jangan terlampau luas, terlalu sempit, atau mengandung unsur emosional. Topik yang luas dan terlalu kompleks akan membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang banyak untuk menyelesaikannya. Bagi kalangan mahasiswa (apalagi mahasiswa S1) topik-topik yang seperti ini perlu mendapat pertimbangan optimal untuk dipilih. Itulah sebabnya topik yang luas tersebut dibatasi dalam bentuk topik yang lebih kecil. Dalam membatasi topik ini hendaklah diperhatikan bahwa topik jangan terlalu kecil, sehingga menjadi sangat sempit. Pemabatasan topik dalam bentuk topik yang memadai ini akan memudahkan penulis melakukan telaah dengan telaah keilmuan secara mendalam.
d.      Kebijakan. Topik apa saja dapat ditulis untuk sebuah karya tulis ilmiah. Akan tetapi, jika karya tulis ilmiah tersebut ditulis oleh siswa atau mahasiswa, topik tersebut harus disesuaikan dan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh fakultas dan jurusan. Selain itu, jika untuk keperluan pertemuan ilmiah seperti seminar, pilihan topik pun harus disesuaikan dengan  tema seminar. Jangan pilih topik yang bertentangan dengan kebijakan suatu lembaga atau suatu kepanitiaan.
e.   Media target. Kadang-kadang, penulisan sebuah karya tulis ilmiah dimaksudkan untuk dipublikasikan pada jurnal, koran, atau tabloid. Untuk maksud penulisan yang seperti itu, topik tulisan harus disesuaikan dengan karakteristik atau “selera” media cetak sasaran..
f.      Sanggup. Topik tulisan yang ditetapkan harus berada dalam batas-batas kesanggupan calon penulis.  Oleh sebab itu, jangan pilih topik yang terlalu memberatkan, walauun topik itu sangat menarik utnuk ditulis. Sangat banyak  mahasiswa yang menerima dengan begitu saja topik yang disodorkan oleh seseorang. Akan tetapi, setelah dicermati dengan lebih mendalam, ternyata topik itu cukup rumit dan buth waktu lama untuk menjadikannya sebuah karya tulis imliah. Akibatnya, waktu penyelesaian perkuliahan mahasiswa yang bersangkutan tentu akan lebih lama.

Di dalam memilih dan menetapkan masalah yang akan ditulis, haruslah diperhatikan segi-segi kelayakan dan kepatutan masalah itu untuk ditulis oleh seorang penulis. Hal ini perlu mendapat perhatian calon penulis sebab setelah masalah ditetapkan, segala sesuatu yang akan dipikirkan dan dikerjakan  haruslah mengacu kepada masalah yang ditetapkan tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Sudjana (1988) paling tidak ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk mengukur kelayakan atau ketidaklayakan suatu masalah untuk ditulis. Aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut.

a.      Kesesuaian. Masalah yang ditetapkan hendaknya berkaitan dengan disiplin keilmuan yang dimiliki atau ditekuni,  atau sesuai dengan bidang pekerjaan yang tengah digeluti calon penulis. Ada dua alasan yang mendasari kelayakan dari aspek keilmian ini. Alasan pertama berkaitan dengan persoalan kerterpahaman. Artinya, seorang penulis harus memahami hal-hal yang akan ditulisnya. Masalah-masalah yang berkaitan dengan bidang ilmu yang sedang dipelajari atau bidang pekerjaan yang tengah digeluti tentu lebih mudah dipahami dibandingkan dengan masalah yang berbeda dari  bidang ilmu atau pekerjaan yang tengah digeluti.

Orang yang membahas masalah yang tidak berkaitan dengan keahlian atau pekerejaannya tentu akan mengalami berbagai kendala dalam kegiatan menulisny. Pada akhirnya, kendala tersebut akan menyebabkan kurang lancarnya proses penulisan, hasil tulisan kurang baik, dan tulisan kurang bermanfaat (baik manfaat akademis atau manfaat keilmuan). Pekerjaan yang seperti itu tentu saja sebuah pekerjaan yang sia-sia.

Alasan kedua berkaitan dengan persoalan etika akademik. Seorang penulis haruslah memilih materi tulisan yang berkaitan dengan bidang keilmuan atau keahlian yang ditekuninya. Ia harus menyadari bahwa bidang yang lain, sudah ada orang yang bertanggung jawab untuk menulisnya. Ia harus menghargai bidang lain dan orang yang menekuni bidang tersebut. Garap sajalah “ladang atau lahan” kita, biarlah orang lain menggarap “ladang atau lahannya”. Kalau pun karena sesuatu dan lain hal seorang penulis “terpaksa”  menetapkan topik atau masalah tulisan yang berada di luar disiplin ilmu atau bidang kerja yang ditekuninya, maka sangatlah terpuji jika calon penulis tersebut berkonsultasi dengan orang yang ahli di bidang yang tidak ditekuninya tersebut.  
Cara ini (melibatkan ahli di bidang lain tersebut)  merupakan salah satu wujud dari keberetikaan akademik.

b.      Dapat dianalisis. Masalah yang ditulis harus dapat dipecahkan melalui langkah-langkah berpikir ilmiah. Dalam hal ini, metode yang digunakan adalah metode ilmiah, yaitu suatu metode yang ditopang oleh tiga hal utama, yaitu: (1) logika, (2) hipotika, dan (3) verifikasi data.  Logika berkaitan dengan keberterimaan masalah secara akal sehat. Dalam kaitan ini, masalah tersebut harus dapat dianalisis secara teoretis. Hipotika berkaitan dengan pegajuan pertanyaan atau hipotesis terhadap masalah yang ditetapkan. Pertanyaan tersebut tidak hanya dalam bentuk pengajuan masalah, tetapi juga dapat dalam bentuk teori dan metodologi yang dipilih. Di dalam menulis, apalagi meneliti, pertanyaan-pertanyaan ini selalu diajukan oleh penulis atau peneliti. Verifikasi data  berkaitan dengan analsis masalah dengan mengacu kepada data-data yang diperoleh. Hasil analisis data tersebut dikonfirmasikan kembali dengan pertanyaan atau hipotesis yang telah diajukan sebelumnya. Untuk selanjutnya ditarik suatu simpulan.

c.       Manfaat. Masalah yang ditulis harus memiliki manfaat. Kebermanfaatan ini berkaitan dengan  kepentingan dan kegunaan. Masalah yang akan diangkat atau ditetapkan menjadi topik karya tulis ilmiah haruslah masalah-masalah yang mendasar dan berdaya guna, bukan masalah yang asal dapat. Kebermanfaatan ini dapat dalam bentuk manfaat akademis dan manfaat keilmuan. Manfaat akademik berkaitan dengan kegunaan tulisan untuk memenuhi persayaratan tertentu guna meraih gelar kesarjanaan (sarjana, magister, atau doktor), atau guna memenuhi tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen tertentu. Manfaat keilmuan berkaitan dengan sumbangan yang dapat diberikan oleh suatu tulisan terhadap tumbuh kembangnya suatu ilmu. Jika masalah yang ditetapkan adalah masalah yang sama dengan apa yang telah ditulis oleh penulis sebelumnya, maka kebermanfaatan tulisan yang akan ditulis  tersebut tentu tidak tinggi. Itulah sebabnya didalam pengajuan judul skripsi, tesis, dan apalagi disertasi seseorang sering mengalaminya secara berulang. Artinya, masalah yang diajukan tersebut tidak dapat diterima karena telah pernah ditulis oleh penulis terdahulu.

d.      Batasan. Masalah yang ditetapkan harus berada pada rentangan yang wajar. Hal ini berkaitan dengan keluasan dan kesempitan masalah yang ditetapkan. Rentangan ini sangat penting untuk diperhatikan, terutama oleh kalangan mahasiswa yang akan menulis skripsi, tesis, atau disertasi. Jika masalah tersebut terlalu luas, dikhawatirkan mahasiswa tidak dapat menyelesaikan tulisan tersebut pada waktunya, sehingga ia terlambat menyelesaikan perkuliahannya. Jika masalah tersebut terlalu sempit, apalagi untuk ukuran disertasi, dikhawatirkan tulisan tersebut tidak tuntas dan tidak berkualitas. Keterampilan dalam tarik ulur luas dan sempit masalah ini perlu dimiliki calon penulis agar ia dapat menyelesaikan dan menghasilkan tulisan yang baik. Tarik ulur luas dan sempit ini juga berlaku untuk daerah penelitian dan responden penelitian. Jika daerah dan responden penelitian terlalu luas atau banyak, dikhawatirkan mahasiswa tidak dapat menyelesaikan penelitian atau skripsi tersebut pada waktunya. Sebaliknya, jika terlalu sempit, juga dikhawatirkan tidak memberikan gambaran yang menyeluruh. Menyikapi hal yang seperti ini,   dibutuhkanlah teknik sampling untuk menentukan daerah atau responden penelitian.

e.  Keilmuan. Masalah yang dipilih untuk karya tulis lmiah harus terbebas dari unsur-unsur emosional. Kebebasan masalah dari aspek emosional berkaitan dengan tidak dibolehkannya persoalan-persoalan rasa atau perasaan terlibat didalam menganalisis masalah yang ditetapkan sebagai topik karya tulis ilmiah. Karya tulis ilmiah harus terbebas dari persoalan rasa dan unsur-unsur emosioal. Jika pada masalah yang ditetapkan ada nuansa rasa dan emosionalnya, maka hal itu perlu dibuang karena tidak bisa dibuktikan secara rasional dan empiris. Bukankah persoalan   rasa dan emosional sangat bersifat subjektif. Oleh sebab itu, masalah yang berkaitan dengan suka dan duka perlu dihindarkan.

Topik tulisan yang sudah ditetapkan belum tentu akan dibahas seluruhnya. Dalam kenyataannya, sebuah topik yang sudah ditetapkan dapat dipecah-pecah atas beberapa subtopik, lebih-lebih jika topik itu ditetapkan untuk suatu penelitian. Pembatasan topik sangat diperlukan sekitarnya topik yang akan ditulis itu dirasa terlalu luas. Pembatasan terhadap topik tulisan dilakukan untuk  menjaga supaya pembahasan tidak mengambang, tulisan dapat diselesaikan pada waktunya. Manfaat lain dari pembatasan ini adalah untuk lebih memperdalam pembahasan terhadap topik itu dan lebih mensistematiskan organisasi penulisan.

Topik tulisan yang sudah dibatasi hendaknya dirumuskan dalam bentuk rumusan masalah. Biasanya rumusan masalah dibuat dalam bentuk pertanyaan. Untuk suatu penelitian, biasanya rumusan topik atau masalah ini diturunkan menjadi pertanyaan penelitian. Jawaban dari rangakaian pertanyaan inilah yang akan dikembangkan, sehingga menjadi sebuah tulisan atau karangan. Dalam kegiatan menulis, rumusan masalah merupakan landasan tumpu sebagai titik awal bertolaknya sebuah tulisan.

Seorang calon penulis (lebih-lebih calon peneliti), harus dapat merumuskan masalah yang akan ditulis atau ditelitinya dengan baik. Masalah-masalah yang telah dirumuskan tersebut sangat  besar manfaatnya dalam berbagai hal, misalnya: (1) mengarahkan pengembangan tulisan, (2) mengontrol pengembangan karangan, (3) memudahkan penggunaan bahasa secara teratur, (4) memudahkan pencarian bahan rujukan dan data yang di perlukan, (5) memudahkan menetapkan metodologi penelitian yang akan digunakan, dan (6) memudahkan merumuskan pertanyaan dan tujuan penelitian.

Jika dikaitkan dengan komponen organisasi, komponen isi karya tulis ilmiah dieksplisitkan pada bagian tengah atau bagian utama karya tulis ilmiah.  Pada dasarnya, komponen-komponen karya tulis ilmiah yang memuat isi ini adalah (1) komponen pendahuluan  dengan aneka subkomponennya, (2) komponen pembahasan dengan aneka subkomponennya, dan (3) komponen penutup juga dengan aneka subkomponennya.

Pada karya tulis ilmiah dalam bentuk skripsi, tesis, disertasi, dan laporan penelitian, bagian pembahasan biasanya mengalami pengembangan. Pada umumnya, pengembangan tersebut berkaitan dengan kerangka teori, metodologi, serta hasil penelitian dan pembahasan. Pada lembaga-lembaga tertentu isi bagian pembahasan ini bisa lebih banyak. Berdasarkan pengembangan-pengembangan tersebut, bagian isi karya tulis ilmiah pada hematnya terdiri atas beberapa komponen, yaitu: (1) komponen pendahuluan  dengan aneka subkomponennya, (2) komponen kerangka teori atau kajian teori dengan aneka subkomponennya, (3) komponen metodologi dengan aneka subkomponennya, (4) komponen hasil penelitian dan pembahasan dengan aneka subkomponennya, dan (5) komponen penutup dengan aneka subkomponennya.

2.      Komponen Gaya Penulisan Karya Tulis Ilmiah

Yang dimaksud dengan komponen gaya dalam penulisan karya tulis ilmiah adalah pengolahan dan penggunaan bahasa dengan sedemikian rupa dalam mengemukakan sesuatu. Persoalan-persoalan yang hendak dikemukakan harus disampaikan dengan kata-kata dan kalimat-kalimat  pilihan, sehingga segala sesuatu yang dikemukakan tersebut dapat dipahami dengan lebih mudah dan dengan lebih baik oleh pembaca.

   Karya tulis ilmiah adalah karya tulis yang ditulis berdasarkan aturan-aturan yang baku. Sungguhpun demikian, karya tulis ilmiah bukanlah karya tulis yang beku. Pengolahan dan penataan bahasa dengan sedemikian rupa merupakan salah satu cara untuk  meminimalisir kebekuan sebuah karya tulis ilmiah. Pengolahan bahasa pada penulisan karya ilmiah dengan cara dan gaya-gaya tertentu dimaksudkan untuk mencari efek tertentu dalam rangka mempertegas makna, mempertajam arti, dan memperlancar komunikasi. Gaya penulisan karya tulis ilmiah lebih memberikan rangsangan pada efek berpikir. Pada karya tulis nonilmiah atau karya sastra atau karya tulis populer lainnya, gaya ini dimaksudkan untuk membangkitkan emosional pembaca.

Wujud dari gaya penulisan ini sering ditemui dalam penataan kalimat dan paragraf. Tatanan kalimat karya tulis ilmiah harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keberlogikaan dan variatif penalaran, sehingga setiap kalimat menjadi lebih hidup dan komunikatif. Tatanan gaya pada skala paragraf dapat dilakukan dengan meletakkan pokok pikiran dan kalimat utama pada awal paragraf. Selain itu, cara membuka, mengembangkan, mengakhiri, dan mengalihkan paragraf juga perlu diperhatikan. Uraian lebih lanjut tentang paragraf akan dibicarakan pada bab tersendiri.

3.      Komponen Mekanis Karya Tulis Ilmiah

Komponen mekanis atau komponen mekanisme tulisan karya tulis ilmiah adalah komponen yang berkaitan dengan tata tulis. Hal ini menginformasikan bahwa penulisan karya tulis ilmiah tidak boleh dilakukan dengan cara sembarangan. Artinya, terdapat aturan-aturan tertentu yang harus dipenuhi dalam menuliskan sesuatu pada karya tulisi ilmiah. Pada hematnya, beberapa hal yang perlu mendapat perhatian didalam menuliskan sesuatu tersebut adalah sebagai berikut.   
               
a.      Sistematika penjenjangan. Yang dimaksud dengan penjenjangan di dalam tulisan ini adalah tata cara pemilah-milahan suatu komponen yang membangun sebuah karya tulis ilmiah menjadi komponen-komponen yang lebih kecil. Pada umumnya, sistem penjejangan tersebut dimulai dari bab. Bab I, II dan seterusnya dianggap sebagai jenjang pertama atau tingkat satu. Subbab dari bab I, II, tersebut dianggap sebagai jenjang kedua atau tingkat dua. Perincian subbab dari bab I, II, tersebut dianggap sebagai jenjang ketiga atau tingkat tiga. Demikianlah seterusnya. 

Seberapa jauh penjengan tersebut pada suatu karya tulis ilmiah, tidaklah dapat dipastikan. Semua itu sangat tergantung kepada seberapa jauh penulis melihat perlunya tidaknya pemilahan terhadap suatu persoalan yang hendak dikemukakannya. Dalam kaitan ini, menata isi karya tulis ilmiah dalam bentuk outline sangatlah dianjurkan, karena dari outline tersebut akan terlihat bagian-bagian karya tulis ilmiah yang perlu atau tidak perlu dikembangkan.                       
  1. Penggunaan kertas. Kertas yang dipakai untuk penulisan karya tulis ilmiah adalah  kertas biasa HVS. Kertas HVS tersebut terdiri atas dua ukuran, yaitu: (1) ukuran kuarto atau A 4 dengan luas kertas 21 cm x 29,7 cm dan berat 70 atau 80 miligram dan (2) ukuran folio dengan luas kertas 21,59 cm x 35,56 cm dan berat 70 atau 80 miligram.
Tentang luas kertas yang digunakan untuk penulisan atau bagian-bagian pinggir kertas yang dikosongkan, biasanya disesuaikan dengan aturan-aturan  umum berikut, yaitu: (1) dikosongkan 4 cm dari bagian kiri kertas (margin kiri), (2) dikosongkan 2 - 3 cm dari bagian kanan kertas (margin kanan), (3) dikosongkan 3 - 4 cm dari bagian atas kertas, dan (4) dikosongkan 3 cm dari bagian bawah keatas.
  1. Pengetikan. Pada umumnya, karya tulis ilmiah ditulis dengan menggunakan mesin ketik. Mesin ketik yang dipakai dapat berupa mesin ketik biasa atau komputer. Saat ini, pengetikan karya tulis ilmiah dengan menggunakan komputer merupakan hal yang  biasa. Di dalam pengetikan karya tulis ilmiah hendaklah diperhatikan jenis dan besar huruf, penebalan dan pemiringan ketikan,  dan lain-lain
  2. Jarak spasi. Jarak spasi karya tulis ilmiah antara satu baris dengan baris berikutnya sangat bervariasi. Variasi tersebut adalah sebagai berikut, (1) jarak spasi satu digunakan untuk memisahkan baris pertama dan baris berikutnya pada penulisan abstrak, kutipan panjang,  daftar-daftar (daftar isi, tabel, gambar, kepustakaan), bab atau subbab, (2) jarak spasi satu setengah digunakan untuk memisahkan baris pertama dan baris berikutnya pada penulisan kata pengantar, antara bagian-bagian pada daftar-daftar (misalnya antara tabel satu dengan tabel berikutnya),  (3) jarak spasi dua  digunakan untuk memisahkan baris pertama dan baris berikutnya pada penulisan isi tulisan, antara bagian-bagian pada daftar kepustakaan (antara sumber pertama  dengan sumber berikutnya,  (4) jarak spasi dua setengah  digunakan untuk memisahkan baris akhir kutipan panjang dengan baris berikutnya, (5) jarak spasi tiga atau empat  digunakan untuk memisahkan subbab pertama dengan subbab berikutnya.   
  3.  Penomoran.   Karya tulis ilmiah ditulis dengan memiliki nomor halaman. Akan tetapi, tidak seluruh halaman karya tulis ilmiah itu memiliki nomor. Penulisan nomor  halaman pada karya tulis ilmiah harus dilakukan dengan memperhaikan aturan-aturan yang berlaku. Penomoran halaman baru dimulai pada penulisan abstrak, yaitu dengan menggunakan angka Romawi kecil (i). Angka Romawi kecil ini digunakan sampai berakhirnya penulisan bagian awal karya tulis ilmiah (daftar-daftar). Penomoran halaman selanjutnya dilakukan dengan menggunakan angka Arab (1). Angka Arab ini digunakan sejak halaman pertama komponen pendahuluan sampai berakhirnya karya tulis ilmiah yang bersangkutan.
  4. Penulisan angka. Penggunaan angka dalam sebuah karya tulis ilmiah, sulit untuk dihindarkan. Paling tidak, angka tersebut digunakan untuk menentukan nomor halaman. Penggunaan angka untuk karya tulis ilmiah tidak dilakukan secara sembarangan. Oleh sebab itu, seorang penulis harus memahami etika penulisan angka ini.
  5. Penulisan bahan ilustrasi. Karya tulis ilmiah dalam bentuk hasil penelitian tidak dapat dihidari dari penyampaian informasi melalui foto, tabel, grafik, gambar, dan lain-lain. Hal-hal tersebut sering juga disebut dengan bahan ilustrasi. Dengan bahan ilustrasi tersebut, diharapkan informasi yang hendak disampaikan dapat disajikan dengan lebih menarik  dan mudah dipahami.

4.      Komponen Perwajahan

Jika dicermati keberadaan sebuah karya tulis ilmiah secara keseluruhan, maka yang pertama kali dilihat dari sebuah karya tulis ilmiah adalah wajah, kulit, sampul, atau halaman judul karya tulis ilmiah yang bersangkutan. Sebagai hal yang pertama dilihat, maka penataan sampul ini harus dilakukan dengan sedemikian rupa sehingga menjadi lebih menarik.  Kemenarikan sampul  sebuah karya tulis ilmiah (skripsi, tesis, disertasi) dapat dicermati dari berbagai hal berikut.  
             
a.   Perwarnaan. Pada umumnya, warna sampul sebuah karya tulis ilmiah adalah warna yang polos, misalnya: hitam, kuning, unggu, oren, abu-abu, dan lain-lain. Tidak ada warna sampul karya tulis ilmiah  yang warna warni sebagaimana halnya warna karya tulis nonimiah atau buku ilmiah. Pilihan warna ini sangat ditentukan oleh kebijakan selingkung di mana penulis karya tulis ilmiah tersebut belajar (kuliah) atau bekerja.

b.  Penataan rumusan judul. Judul karya tulis ilmiah adalah bagian karya tulis ilmiah yang menginformasikan rumusan tentang persoalan (isi) yang ditulis.  Hal itu disebabkan antara masalah yang ditulis dengan  judul tulisan sama-sama saling mencerminkan.  Ketika membaca judul akan tergambarlah masalah yang ditulis dan ketika menetapkan masalah akan terbayanglah judul dari tulisan yang akan ditulis. Judul inilah yang pertama kali dilihat dan dibaca oleh pembaca karya tulis ilmiah yang bersangkutan. Peran judul dalam menginformasikan tentang apa dan bagaimana sebuah karya tulis ilmiah sangat besar dan sangat penting. Oleh sebab itu, judul tersebut  harus dirumuskan dan ditata dengan sedemikian rupa. 

Beberapa hal berikut perlu diperhatikan didalam menulis judul karya tulis ilmiah, yaitu: (1)  judul harus mencerminkan topik atau selaras dengan permasalahan yang dibahas, (2) jika karya tulis ilmiah ditulis berdasarkan hasil suatu penelitian (terutama untuk judul skripsi, tesis, dan disertasi), maka judul tersebut harus mampu menggambarkan dua hal utama, yaitu permasalahan yang diteliti dan  prosedur pelaksanaan penelitian, (3)  judul karya tulis ilmiah harus dirumuskan secara jelas, tegas, dan tuntas,  (4) judul dapat dirumuskan dalam dua bentuk, yaitu dalam bentuk judul utama saja dan dalam bentuk  judul utama dan subjudul, subjudul ini sering juga disebut atau diistilahkan dengan anak judul, jika memakai subjudul, maka subjudul tersebut ditulis setelah judul utama, yaitu setelah tanda titik dua atau di dalam tanda kurung, (5) judul ditulis/dirumuskan dalam bentuk pernyataan-pernyataan, pernyataan tersebut dapat berbentuk frasa atau klausa dan ditulis dengan kata-kata yang utuh, (6) judul tidak boleh bersifat bombastis, tidak mengandung emosional, dan tidak ambigu sebagaimana halnya judul karya tulis nonilmiah, (7) perhatikan panjang atau pendeknya judul tulisan, panjang atau pendeknya judul ini ditentukan oleh jumlah kata yang membangun judul tersebut, yaitu antara delapan sampai dengan dua belas kata, jika terpaksa, bisa sampai lima belas kata, penghitungan jumlah kata ini tentu saja dengan mempertimbangkan kejelasan, kepadatmaknaan, dan ketuntasan,

c.   Penggunaan lambang. Lambang yang dipakai pada sampul judul adalah lambang fakultas atau lambang universitas tempat karya tulis ilmiah itu ditulis, atau lambang institusi yang membiayai/mensponsori  karya tulis ilmiah (laporan penelitian) itu. 

d.  Jenis huruf yang dipakai. Pada umumnya, jenis huruf yang digunakan pada kover karya tulis ilmiah adalah Times New Romans. Ukurannya (font) adalah 14.

e.   Susunan baris rumusan judul. Sesuai dengan jumlah kata pada rumusan judul, sebuah judul karya tulis ilmiah dapat terdiri dari dua atau tiga baris. Terhadap hal yang seperti ini penulis harus mampu menata kata-kata pada masing-masing baris. Hal ini perlu diperhatikan agar tidak  ada penempatan  kata yang janggal,  misalnya menempatkan kata hubung (dan, dengan, sebagai, dan lain-lain) di akhir baris. 
f.   Kelengkapan komponen sampul. Pada umumnya komponen sampul terdiri dari beberapa hal, yaitu: (1) judul, (2) jenis tulisan, (3) identitas penulis, (4) lambang lembaga, (5) nama lembaga, (6) nama kota, dan (7) tahun.
g.   Posisi tulisan. Kata-kata, frasa, atau klausa yang terdapat pada judul dapat dituliskan dalam bentuk lurus kanan penuh, lurus kiri penuh, atau seimbang (di tengah). Untuk skripsi, tesis, atau  disertasi, kata-kata, frasa, atau klausa pada umumnya ditulis dalam bentuk seimbang atau memusat.
h.      Ketebalan tulisan. Pada umumnya, tulisan yang terdapat pada sampul dicetak dengan cetak tebal (bold).

Selain sampul, perwajahan karya tulis ilmiah juga dapat diartikan dengan tampilan keseluruhan karya tulis ilmiah yang bersangkutan, dimulai dari halaman sampul sampai kepada halaman lampiran. Pada halaman-halaman yang demikian berlaku segala ketentuan penulisan, sebagaimana yang dipersyaratkan pada penulisan karya tulis lmiah.

KEPUSTAKAAN

Akhadiah, Sabarti.dkk.1988. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga
Alwi, Hasan dkk. 2008. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.­
Arifin, E. Zainal. 1991. Penulisan Tulisan Ilmiah dengan Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: Mediyatama Sarana Perkasa.
Arifin, Zaenal dan S. Amran Tasai. 2004. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.
Arifin, Syamsir dan Muhardi. 1982. “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah”. Padang: FPBS IKIP Padang.
Basuki, I. A. 1994. Pemakaian Bahasa dalam Artikel di Jurnal. Makalah disajikan pada Penataran-Lokakarya Penulisan Karya llmiah Dosen PGSD IKIP Malang.
Basuki, I. A. dan Hasan, M. 1996. “Kesalahan Umum Pemakaian Ejaan” (Makalah disajikan pada Penataran Guru Bahasa Indonesia Yayasan Cendana Pakanbaru, Riau, tanggal 24 Juni s.d. 7 Juli1996. Pekanbaru: Panitia Seminar
Basuki, I. A, Roekhan, Suyono dan Rofi'uddin, Ah. 1995. “Bahasa Indonesia llmiah”. Malang: IKIP Malang.
Chaer, Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Eneste, P. 1995. Baku Pintar Penyuntingan Naskah. Jakarta: Penerbit Obor.
Ermanto dan Emidar. 2009. Bahasa Indonesia: Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.  Padang: UNP Press.
Gani, Erizal. 1999. “Pembinaan Keterampilan Menulis di Perguruan Tinggi”. (Bahan Ajar). Padang: Universitas Negeri Padang.
----------. 2012. Menulis Karya Ilmiah:Teori dan Terapan. Padang: Sukabina Press.
Hariwijaya, M., 2006. Pedoman Teknis Penulisan Karya Ilmiah Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Yogyakarta: Citra Pustaka.
Hariwijaya, M.,  2008. Cara Mudah Menyusun Proposal Skripsi, Tesis dan Disertasi. Pararaton. Yogyakarta.
Hasyim, Nafron dan Arman Tasai. 1992. “Komposisi dalam Bahasa Indonesia”. Jakartaa: Pusat Pengembangan Bahasa.
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indo-nesia yang Disempurnakan".
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0389/U/1988 tentang Penyempurnaan "Pedoman Umum Pembentukan Istilah".
Keraf, Gorys. 1980. Komposisi (Sebuah Pengantar Keterampilan Berbahasa). Ende Flores: Nusa Indah.
--------. 1991. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
---------.  2004. Argumentasi dan Narasi. Endo Flores: Gramedia.
---------.  2005. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.
Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Manaf, Ngusman Abdul. 1999. “Sintaksis Bahasa Indonesia”. (Bahan Ajar).  Padang: Universitas Negeri Padang.
Masinambow dan Paul Haenen. 2002. Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Perpustakaan Nasional RI. 2006. Petunjuk Teknis Penentuan  Kata Utama dan Ejaan untuk Tajuk Nama Pengarang Indonesia. Jakarta:  Perpustakaan Nasional RI.
Razak, Abdul. 1988. Kalimat Efektif, Struktur, Gaya, dan Variasi. Jakarta: Gramedia.
Semi, M. Atar. 1989. “Menulis Efektif”. Padang: Etika Offset.
Sikumbang, Abd. Razak. 1981. Penulisan Karangan Ilmiah. Padang: Fakultas Keguruan Sastra dan Seni IKIP Padang.
Suparno, 1998. Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Tulisan llmiah. Makalah disajikan pada Seminar-Lokakarya Penyuntingan Jurnal Angkatan IV IKIP Malang, tanggal 13-16 Januari 1998.
Suparno, Basuki, I. A, Dawud & Roekhan. 1994. “Bahasa Indonesia Keilmuan”. Malang: IKIP Malang.
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Menulis: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Widyamartaya, A. 1990. Seni Mengayakan Kalimat. Yogyakarta: Kanisius.



Karya lain dari Penulis


















TENTANG  PENULIS

Erizal Gani, lahir di  Batusangkar 07 September 1962.  Merupakan putra keenam dari tiga belas orang bersaudara [saat ini yang hidup hanya enam orang, tiga laki-laki, tiga perempuan (tiga pasang)]. Anak dari pasangan Abdul Gani (almarhum) dengan Nurana (almarhumah) ini menjalani masa kanak dan remajanya di desa Air  Mati dan Tanah Garam Solok.

Erizal Gani menyelesaikan pendidikannya di SDN 6 Solok tahun 1975, SMPN 1 Solok tahun 1979, SMA Negeri Solok  tahun 1982,  S1 Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FPBS IKIP Padang tahun 1986, dan S2 Program Pengajaran Bahasa Indonesia  Fakultas Pascasarjana (FPS) IKIP Bandung tahun 1992. Tahun 2003 melanjutkan studi S3-nya di Program Studi Ilmu Pendidikan Program Pascasarjana (PPs)   Universitas Negeri Padang (UNP).
Selama menempuh pendidikan di sekolah (SMP dan SMA) dan di perguruan tinggi (S1) aktif dalam kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS),  Himpunan Mahasiswa (Hima), dan Senat Mahasiswa (Sema). Sejak menamatkan pendidikan S1 tahun 1986 sampai sekarang, Erizal Gani mengabdikan dirinya sebagai dosen di almamaternya. Selain itu, ia juga mengabdikan dirinya sebagai dosen luar biasa PPs UNP Padang, PPs IAIN Imam Bonjol Padang, dan di beberapa perguruan tinggi di Sumatera Barat.Erizal Gani aktif menjadi pemakalah dalam seminar internasional dan nasional yang diselenggarakan oleh  beberapa organisasi profesi yang relevan. Selain itu, ia juga aktif sebagai instruktur dalam berbagai penataran dan pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah, organisasi MGMP, dan organisasi mahasiswa.Erizal Gani telah menulis beberapa hasil penelitian dan buku ilmiah. Buku terbitan terbaru yang ditulisnya adalah Pantun Minangkabau: dalam Perspektif Budaya dan Pendidikan (2010 diterbitkan oleh UNP Pres), Menulis Karya Ilmiah: Teori dan Terapan (2012 diterbitkan oleh Sukabina Press), dan Komponen-komponen Karya Tulis Ilmiah (dalam proses penerbitan oleh Lubuk Agung). 

Menikah dengan Dra. Yurniwati, guru SMA Negeri 1 Padang tahun 1987 Saat ini tinggal di Kompleks Perumahan Singgalang Blok B 5 nomor 23 Kel. Batang Kabung-Ganting Kec. Koto Tangah Padang.

Sering dilihat, yang lain mungkin penting