Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Minggu, 29 Oktober 2017

Pendidikan Seni dan Permasalahannya Dalam Konteks Global

Oleh: Nasbahry Couto

Sejarah pendidikan seni pada anak dan sekolah pada umumnya di Indonesia, ditandai dengan adanya perubahan dan pergeseran dalam konsep (teori) dan praktik. Misalnya paradigma utama konsep pendidikan seni di sektor pendidikan anak usia dini (PAUD), telah berkembang ke arah pertentangan pengembangan individu dengan penekanan pada proses, pengarahan diri sendiri, dan peran guru yang pasif, hal ini terlihat dari tulisan-tulisan (Chapman, 1978; Gardner, 1990; Wright, 1991; Engel, 1995; Seefeldt, 1995; Gunn, 2000). Pendidikan anak pada usia dini, sebenarnya tidak banyak masalah. Saat ini terjadi pergeseran lambat menuju pendidikan seni dengan pendekatan yang lebih kognitif terjadi di bawah pengaruh Reggio Emilia dan teori sosial budaya Vygotsky. Namun, perkembangan, pendidikan progresif dan teori dan filsafat psiko-analitis masih dipraktikkan dan mendominasi kurikulum seni anak usia dini dengan dikotomi yang melekat padanya, dimana disuatu pihak masih mementingkan proses daripada produk, akademik versus non-akademik, integrasi terhadap pemisahan seni, bermain bebas versus arah dewasa, dan bermain versus bekerja (Wright, 1991; Ritchie, 1999; Gunn, 2000).

Yang menjadi masalah adalah pendidikan seni di peringkat sekolah dasar sampai pendidikan menengah, karena orientasi pelaksanaan maupun teori antara Pendidikan seni bisa berbeda-beda antara di Barat, di Asia maupun di Indonesia. Dimana  pembelajaran seni diperingkat ini di Eropah tidak terlepas dari isu-isu (1) tingkat pengambil keputusan kurikulum yang berbeda antara (pusat, daerah, lokal, sekolah) ini terjadi di Eropah dan Amerika, (2) tujuan pendidikan seni (ada 14 tujuan di Eropah) dan ada beberapa pilihan di Indonesia, (3) organisasi kurikulum seni (terpadu atau terpisah, terintegrasi atau tidak, Subyek Seni Wajib atau Opsional) butir 3 ini terjadi baik di Eropa maupun di Asia dan Indonesia.(4) alokasi waktu mengajar seni sama saja masalahnya secara global karena mengenyampingkan pendidikan seni.(5) hal ini juga berakibat kepada penyiapan guru, kualitas guru, pengadaan fasilitas mengajar, maupun sistem evaluasi.
Sebenarnya ada banyak mitos, miskonsepsi, banyak masalah dan isu-isu dalam pendidikan seni. Namun dari semua masalah, isu dan mitos dalam seni, yang terpenting adalah kreatifitas dalam seni, yang perlu dikembangkan dalam pendidikan seni.

Keywords: Isu pendidikaan seni, Eropah, Asia, Indonesia, dan kreatifitas 

Sering dilihat, yang lain mungkin penting