Automatic translation of this blog page: Terjemahan otomatis blog ini

Tampilkan postingan dengan label Desain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desain. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Juni 2015

Pasangan Font (Font Pairing) dan Persepsi

Oleh Nasbahry Couto

Sekarang ini lagi musim Pilkada, dimana-mana di pajang iklan/ poster calon kepala daerah disertai dengan tulisan- tulisan (font)-- yang menampilkan slogan-slogan untuk mempengaruhi massa pemilih di daerah masing-masing. Yang menarik adalah bagaimana para pengelola propaganda itu dalam hal  menampilkan tokoh dan pemilihan font yang dipakai dalam slogan itu. Menurut  penulis banyak yang tidak peduli dengan tipografi, sebanyak yang tidak peduli dengan cara menampilkan tokoh yang sering terlihat lucu dan konyol. Proyek seperti ini hanya di buat asal-asalan dan kemudian di pajang di pinggir jalan. Hal ini dapat dimengerti, karena duit masuk mengalir deras ke kas pemilik digital printing tanpa menggunakan jasa desainer DKV.
Artikel ini tidak hanya untuk desainer DKV, untuk melayout buku atau DESAIN WEB, tetapi juga penting bagi guru-guru di SD,SMP dan SMU yang ingin mengajarkan bagaimana membuat poster yang baik dengan pengetahuan menggunakan kombinasi beberapa jenis font secara kreatif dan indah di pandang mata untuk berbagai kegunaan, misalnya membuat kop surat, poster, kartu undangan, brosur maupun spanduk. Dan tentu saja sebaiknya harus menggunakan komputer. Walaupun hal ini bisa dikerjakan secara manual.

Sumber: https://dwikisetiyawan.wordpress.com/2009/03/31/spanduk-lucu-dan-inspiratif-caleg-pemilu-2009/ 


Sejak penggunaan komputer bukan lagi menjadi barang mewah, penggunaan tipografi secara bebas menjadi gejala yang umum. Dan juga, karena mudahnya mendapatkan font dari internet, 

Gejala ini juga terlihat pada pemilihan font untuk penerbitan dan tulisan ilmiah di perguruan Tinggi. Misalnya font untuk body copy dan heading untuk penerbitan. Atau, misalnya apa dasar pemakaian Time New Roman sebagai standar tulisan ilmiah di PT dengan spasi 1,5 point. Bukankah ini terjadi sejak pemakaian Windows, dan hanya untuk keseragaman?


Tulisan di bawah ini mungkin tidak akan mengkaji hal teori persepsi untuk produk representasi (foto dan gambar) dan penulis hanya mencoba untuk membahas pemakaian dan persepsi mengenai font yang sering dipergunakan secara bebas.


Senin, 13 April 2015

Beberapa Batas Persepsi Manusia

Oleh Nasbahry Couto

Teori Persepsi

Persepsi merupakan isu sentral dalam epistemologi (cabang ilmu filsafat tentang dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan), teori pengetahuan. Pada "akar semua pengetahuan empiris" didasarkan pada bagaimana kita melihat, mendengar, menyentuh, membau dan merasakan dunia di sekitar kita (O'Brien, Daniel ,2014).
Persepsi (dari bahasa Latin perceptio, percipio) adalah peristiwa menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna sehingga dapat memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan.  Hal ini juga sudah lama dikemukakan oleh para filsuf, misalnya Kant berpendapat bahwa dalam melihat fakta, kejadian atau peristiwa manusia melahirkan ide-ide dan konsep tertentu yang diutarakan dalam label–label bahasa. Immanuel Kant (1724-1804), seorang filsuf Jerman, berpendapat bahwa ide-ide itu harus dikoordinasi, kalau tidak akan menimbulkan kekacauan. Oleh karena itu, ada beberapa tahap pengorganisasian idea, yaitu sensasi, persepsi, konsepsi, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Penjelasannya adalah sebagai berikut.
1) Sensasi merupakan stimulus (rangsang) yang tidak ditertibkan.
2) Persepsi adalah sensasi yang telah diatur.
3) Konsepsi adalah persepsi yang telah dikategorisasikan.
4) Science adalah pengetahuan yang telah diorganisasi.
5) Kebijaksanaan adalah organisasi hidup manusia.
Sensasi yang dimaksud oleh Immanuel Kant adalah semua rangsang yang diterima oleh manusia melalui panca indra. Umumnya sensasi itu dianggap belum tertib, belum terpola pada suatu pengertian. Kita menerima sensasi-sensasi dari penglihatan, pendengaran, penciuman dan sebagainya, semuanya itu disebut persepsi.
Kajian batas persepsi itu sangat luas, contoh-contoh di bawah ini hanya sebagian kecil dari kajian batas persepsi itu. Menurut penulis kajian persepsi dapat meliputi tiga wilayah besar kajian yaitu wilayah kajian (1) peristiwa fisiologis, (2) peristiwa persepsi sosial dan budaya dan pembelajaran, (3) wilayah kajian peristiwa pengamatan kepada produk kreatif manusia seperti persepsi karya seni dan desain dengan detail-detailnya.

Persepsi sebagai Peristiwa fisiologis. Persepsi meliputi semua sinyal dalam sistem saraf, yang merupakan hasil dari stimulasi fisik atau kimia dari organ pengindra, misalnya penglihatan yang merupakan cahaya yang mengenai retina pada mata, pencium yang memakai media molekul bau (aroma), dan pendengaran yang melibatkan gelombang suara. Persepsi bergantung pada fungsi kompleks sistem saraf, tetapi tampak tidak ada karena terjadi di luar kesadaran. Kajian ini tidak di bahas secara spesifik dalam tulisan singkat ini.

Persepsi sebagai peristiwa sosial, budaya, komunikasi dan pembelajaran. Persepsi bukanlah hanya penerimaan isyarat secara pasif, tetapi dibentuk oleh komunikasi antar manusia, pembelajaran, ingatan, harapan, dan perhatian yang berlangsung dalam konteks sosial dan budaya.Kajian ini juga tidak di bahas secara spesifik dalam tulisan singkat ini.

Persepsi terhadap karya manusia. Persepsi khusus dapat terlihat bagaimana manusia mempersepsikan atau menginterpretasikan artefak seperti bangunan, gedung (skala lingkungan luar), lingkungan dalam (interior) dan objek-objek seperti karya seni dan desain. Kajian ini sedikit dikembangkan dalam tulisan ini berikut contoh-contohnya.


Sabtu, 28 Juni 2014

Praktik Penelitian pada Seni dan Desain: Pengetahuan Experiential dan Inkuiri yang Terorganisir


Oleh:
Kristina Niedderer  dan  Linden Reilly
Pengantar oleh : Nasbahry Couto

Sebelum tulisan ini telah di uraikan adanya dua metoda dalam desain dalam artikel "Metoda Desain)"06-03-2014, yaitu metoda rasional dan metoda tindakan. Tetapi uraian dalam artikel ini sangat singkat. Untuk memperjelas apa itu metoda tindakan, maka penulis merasa perlu untuk menyajikan tulisan Kristina Niedderer  dan  Linden Reilly ini yang diangkat dari jurnal internasional "JRP" (Journal of Research of Paractice) yang berasal dari negara Inggris untuk melihat duduk persoalannya. Sekaligus untuk menjelaskan kaitannya dengan Tacit Knowledge dalam bidang penelitian seni dan desain.

Jurnal Riset Praktik (JRP) adalah salah satu jurnal yang sifatnya open acces journal terkemuka di Inggris.
1. Pelaksanaan  Inkuiri pada Seni dan Desain

Sering dilihat, yang lain mungkin penting